16 August 2015 Georges Hilaul

Belajar Bersama Sjors tebar benih gapai mimpi

20150816image

 

Jakarta (ANTARA News) – “Kami ingin menabur benih agar anak-anak mau mengejar mimpi,” kata Jenny Tjoa, salah satu pendiri Yayasan Belajar Bersama Sjors di lapangan futsal kolong Jembatan Tiga, Pluit, Minggu.

Sekitar tiga ratus anak berumur 5-15 tahun berkumpul berdasarkan rentang usia di “kelas terbuka” yang dipisah berdasarkan spanduk bertulis tingkatan mereka, mulai dari kelas 1-7 ditambah kelas Bintang dan kelas Matahari.

Kelas Bintang berisi anak-anak yang tidak mengenyam pendidikan formal dari berbagai usia, sementara kelas Matahari berisi anak-anak usia PAUD. Masing-masing dipandu oleh para relawan menuliskan (atau menggambar) apa mimpi mereka dalam secarik kertas.

Sebagian besar berseragam kaus hijau bertulis “Belajar Bersama Sjors” di bagian punggung lengkap dengan ransel berwarna senada. Di leher mereka tergantung sebuah tanda pengenal lengkap dengan stiker kedisiplinan. “Kalau bandel, stikernya dilepas, yang tidak punya stiker nggak dapat tempat pensil ya,” ujar salah satu relawan.

Yayasan BBS didirikan oleh Jenny bersama Georges Hilaul yang berdarah Indonesia-Belanda (Sjors adalah ejaan bahasa Belanda dari nama Georges). Yayasan yang kini menginjak tahun pertama memperkenalkan kurikulum baru yang diharap dapat membangun kepercayaan diri dan karakter anak-anak, khususnya yang tinggal di daerah kumuh.

Kegiatan belajar berlangsung sekali sepekan, setiap Minggu siang selama 1,5 jam. Jenny mengenang pertemuannya dengan seorang remaja putri berusia 13 tahun di kawasan pinggiran saat menjadi relawan. “Saya tanya dia ingin menjadi apa? Dia bilang ‘tidak ingin jadi apa-apa’,” kata Jenny.

Jenny terhenyak. Dia menyadari lingkungan tentunya berpengaruh bagi perkembangan seorang anak. Bila tidak ada panutan di sekitarnya, seorang anak bisa tumbuh tanpa cita-cita dan tidak berusaha mengubah nasib menjadi lebih baik. Akibatnya, rantai kemiskinan sulit diputuskan.

“Setiap anak berhak untuk bermimpi,” dia menegaskan. BBS kerap menghadirkan para relawan dari berbagai latar belakang pekerjaan untuk membuka pikiran anak-anak serta merangsang mereka untuk memiliki cita-cita beragam.

Dalam BBS, setiap anak belajar hal-hal yang bersifat non formal untuk menjadikan mereka pribadi-pribadi berkarakter baik. Salah satu yang diajarkan adalah soal kedisiplinan. Di BBS, setiap anak baru diberi seragam dan peralatan sekolah bila konsisten hadir selama empat pekan berturut-turut.

Mereka yang absen selama tiga kali juga tidak boleh lagi mengikuti BBS. Posisi ketua kelas digilir sehingga semua anak dapat merasakan bagaimana menjadi pemimpin. “Pendidikan non formal ini bertujuan membangun karakter dan moral sebagai dasar dari semuanya. Pintar akademis tapi tanpa karakter apa gunanya?” Jenny menyebutkan ada empat tema dalam kurikulum non formal yang diterapkan tahun ini, yakni soal menciptakan mimpi, Indonesia, inspirasi dan keluarga.

“Tema Indonesia mencakup banyak hal, seperti budaya, pahlawan dan museum,” kata dia. Perkembangan tiap anak dapat dipantau melalui buku agenda yang diberikan untuk masing-masing siswa. Dalam buku itu, anak diajak untuk menuliskan apa yang telah mereka pelajari dan bagaimana ilmu tersebut mendekatkan mereka menggapai mimpi. “Seperti diary, guru juga akan menulis komentar,” kata dia.

Setiap anak dapat belajar secara cuma-cuma di BBS hingga berusia 17 tahun. Setelah melewati batas usia tersebut, murid BBS akan diberi kesempatan untuk kembali berkecimpung sebagai relawan. Menurut Jenny, salah satu kendala menjalankan yayasan ini adalah mencari relawan yang konsisten berkontribusi.

Mengingat sifatnya sukarela, dia tidak bisa memaksa relawan untuk datang setiap pekan tanpa absen. Dia berharap perubahan kurikulum dapat memperbesar kesempatan para relawan untuk turut bergabung dalam BBS karena kriteria menjadi semakin mudah. “Awalnya pelajaran formal yang diajarkan, kalau sekarang yang tidak punya latar belakang mengajar pun bisa ikut berbagi,” kata dia, menambahkan ada sekitar 50 relawan yang terlibat.

Peduli masa depan bangsa Jenny dan Georges awalnya sama sekali tidak berkecimpung di bidang pendidikan. Jenny adalah anak kedua dari empat bersaudara yang lahir di Medan, Sumatera Utara pada 2 Februari 1986. Lulusan Food Science dari Universitas New South Wales itu menghabiskan 17 tahun hidupnya di Australia dan Singapura.

“Sama sekali tidak terpikir akan bekerja di bidang yang tidak saya pelajari, tapi passion saya di sini,” kata penyuka kopi itu. Jenny akhirnya kembali ke Indonesia pada akhir 2013. Lama meninggalkan Tanah Air, Jenny merasakan banyak perubahan terutama di Jakarta yang menjadi kota metropolitan.

“Tapi dunia anak tidak berkembang, janji kemerdekaan (soal pendidikan) belum tercapai,” komentarnya. Lalu keduanya bertemu tanpa disengaja. “Saya lagi kerja dengan laptop di Starbucks Grand Indonesia, sebelahan sama Georges. Kami ngobrol, kemudian sering bertemu karena ternyata apartemen dan gym-nya sama,” tutur Jenny.

Pertemanan mereka berujung pada ajakan untuk menjadi relawan di proyek kecil selama tiga tahun yang menjadi cikal bakal BBS. Ketika penggagas proyek itu berhenti, keduanya memutuskan untuk mengambil alih dan meneruskan serta mengembangkan program belajar dalam yayasan baru bernama BBS.

Georges sendiri adalah seorang pesulap yang menjalani karirnya selama sepuluh tahun di Negeri Kincir Angin. Dia memutuskan berhenti tampil di panggung sulap untuk fokus membuat perubahan di negeri yang juga menjadi kampung halamannya. “Saya memang besar dan sekolah di Belanda, tapi sering ke Indonesia untuk mengunjungi keluarga,” kata pria berdarah Ambon-Belanda itu.

Pada 2011, Georges menjadi saksi mata dari ketimpangan sosial di Indonesia di mana banyak anak-anak menghabiskan waktu di jalan sebagai peminta-minta, bukan menuntut ilmu di sekolah. “Ketimbang menjadi relawan atau sekadar memberi dukungan, saya ingin terlibat sendiri. Itu sebabnya saya membuat yayasan dan mencari dana untuk program yang dimulai dari Pluit,” tutur pria kelahiran Rotterdam, 21 Mei 1985.

Sokongan dana didapat dari sumbangan warga Belanda juga perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk membiayai kebutuhan program belajar yang mencapai nilai Rp1.000.000 untuk setiap murid tiap tahunnya. Ke depannya, program ini akan dikembangkan ke daerah-daerah lain seperti Rempoa dan Kelapa Gading yang telah memiliki basis rumah belajar.

Mereka juga berencaba memperluas kerjasama dengan organisasi lokal dan internasional untuk menolong anak-anak yang kurang mampu. Georges mengemukakan BBS siap membantu pihak-pihak yang ingin membuat perubahan dalam mencerdaskan bangsa namun kekurangan sumber daya seperti bahan ajar, kurikulum hingga seragam.

“Saya ingin menyebarkan ini ke penjuru negeri, tapi tidak berhenti di situ, saya juga ingin agar ini bisa diterapkan di negara lain, seperti Brazil dan India yang tingkat kemiskinannya tinggi,” jelas dia. (Source: click HERE)